Daftar Isi

Fokus

MENYOAL TENDA BESAR GERAKAN DAKWAH KULTURAL

 

Muhammadiyah November 2022 nanti berusia 110 tahun. Di mata banyak pengamat dan peneliti  gerakan ini  telah melahirkan banyak  dinamika organisasi yang terjalin berkelindan dengan perubahan sosial besar baik di dalam maupun di luar negeri.  Persyarikatan yang lahir dari kota kecil Yogyakarta itu kini juga semakin mondial dalam amal usaha dan pemikiran. Internasionalisasi gerakan menjadi agenda utama memasuki abad kedua.

Sering disebutkan, Muhammadiyah telah memerankan dirinya sebagai tenda besar bagi seluruh elemen masyarakat. Kerja-kerja individual dan institusionalnya juga selaras dengan tantangan zaman. Bahkan, ada yang menyebut mendahului atau melampaui zamannya tanpa batas. Batas-batas geografis maupun primordial, seperti agama, suku, ras, ekonomi, politik, dan pendidikan.  Dalam hal ini, dakwah kultural yang memandang masyarakat sebagai realitas obyektif  didekati secara solutif,  akomodatif dan kreatif. Namun, muncul pertanyaan ; apakah dakwah kultural itu telah berjalan secara ideal ?

Prof Dr Zainuddin Maliki, Anggota DPR RI, menyimpulkan, kunci penting Muhammadiyah dapat bertahan sebagai tenda besar hingga kini di tengah keragaman yang makin kompleks adalah  karena pesan-pesan dakwah yang disampaikan sangat  inklusif, yakni pesan untuk membangun kebaikan bersama.

โ€œMuhammadiyah dalam banyak hal berhasil melakukan pembebasan masyarakat dari berbagai belenggu struktural maupun kultural yang menghambat pengembangan dan mobilitas sosial. Pembebasan itu dilakukan melalui penguatan iman dan mentalitas masyarakat, perluasan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemudian dituangkan dalam berbagai bentuk amal usaha nyata,โ€ jelasnya.

Dengan berbagai bentuk dakwah kultural yang dilakukan oleh Muhammadiyah tersebut, lanjut anggota Komisi X yang antara lain membidangi pendidikan,  bangsa ini menyaksikan munculnya warga Persyarikatan dan masyarakat luas yang berkesadaran literasi tinggi, memiliki modal sosial dan etos kerja untuk tumbuh menjadi masyarakat yang berkecukupan, dan tumbuh masyarakat kelas menengah yang terdidik bermental kuat, sebagai sebuah syarat yang dibutuhkan  bagi tumbuhnya bangsa yang kuat dan berkemajuan.

โ€œPada konteks ini Muhammadiyah kaya ide-ide kebangsaan, karena di tubuh Persyarikatan  banyak guru-guru bangsa. Tetapi ide-ide kebangsaan itu hanya akan mewujud menjadi realitas jika dikawal oleh politik kekuasaan. Oleh karena itu Muhammadiyah harus bisa mengartikulasikan gagasan-gagasan kebangsaan yang cerdas dan visioner itu  dan mengkomunikasikan kepada pemegang kekuatan politik yang ada di negeri ini,โ€ sarannya.

Laporan Khusus

Konsolidasi Media Jaga Marwah Muhammadiyah

Muktamar Muhammadiyah dan โ€˜Aisyiyah ke-48 akan digelar pada 18-20 November 2022 mendatang. Berbagai persiapan konseptual, program, dan teknis tengah dipersiapan dengan sangat matang. Terlebih lagi gelaran nasional tertinggi Persyarikatan yang lahir  pada 2012 itu sudah mundur 2 tahun akibat Pandemi Covid-19. Yang tak kalah pentingnya untuk keberhasilan siar dan syiar Muktamar adalah konsolidasi pemberitaan terutama dari sumber media yang berafiliasi (berkaitan) dengan Muhammadiyah secara langsung (official) maupun tak langsung.

Dalam konteks itu teknologi informasi kini disadari atau tidak telah mengubah segalanya. Melahirkan dunia maya yang kini mendominasi dunia nyata. Mendisrupsi semua lini kehidupan, termasuk ranah agama dan pemberitaan. Di era digital, mereka yang kuat bukanlah yang memiliki ketangguhan militer dan persenjataan canggih. Tetapi yang mampu menguasai digitalisasi. Sayangnya, Muhammadiyah masih kalah telak dalam peperangan informasi di ranah digital. Bahkan dalam daftar 10 besar website Islam terpopuler di Indonesia versi Alexa (situs ranking internet), tak ada satu pun website Muhammadiyah yang masuk. Fakta ini tentu berlawanan dengan slogan โ€˜Islam Berkemajuanโ€™ yang digaungkan Persyarikatan. 

Menyadari itu para jurnalis Muhammadiyah kemudian melakukan langkah inisiatif  memperkuat dakwah digital. Mereka menggagas sebuah pertemuan bertajuk Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah pada 23-24 Juli 2022 di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Pertemuan diikuti oleh 105 peserta dari 85 media afiliasi Muhammadiyah seluruh Indonesia. Sebagian besar pengelola portal berita digital. Sebagian kecil lainnya dari media siar dan cetak, seperti MATAN, Suara Muhammadiyah, Suara โ€˜Aisyiyah, dan Radio Al Jihad Banjarmasin.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir membuka acara  tersebut secara virtual. Dalam sambutannya, dia mengucapkan selamat dan sangat bangga atas pelaksanaan Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah. Dia berharap Jambore ini bisa menjadi sarana, wahana, sekaligus wasilah untuk menghimpun seluruh potensi dalam usaha mempublikasikan syiar Muhammadiyah.

โ€œJadikan Jambore ini sebagai wasilah untuk mempublikasikan dan menjadikan seluruh bagian serta institusi di Muhammadiyah dalam berbagai jenis media untuk hadir membawa, mensyiarkan, dan menggelorakan Muhammadiyah di berbagai ranah, baik di tingkat lokal, regional, nasional sampai tingkat global,โ€ pesannya.

Dia juga mengingatkan agar media afiliasi ini turut menyukseskan Muktamar Ke- 48 Muhammadiyah dan Aisyiyah. โ€œKami percaya, bahwa berbagai media literasi dan bahkan institusi di Muhammadiyah akan mensukseskan Muktamar Muhammadiyah dan Aisyiyah ke- 48,โ€ tuturnya.

Tidak Berkemajuan di Dunia Digital

Ketua Panitia Jambore Mukhtarom menyampaikan, selama ini isu yang diangkat oleh media afiliasi Muhammadiyah tidak sama. Kebanyakan cuma mengangkat isu lokal.  โ€œYang Bandung sibuk mengurus Bandung. Begitu juga yang Lampung dan daerah lainnya. Maka ini harus kita satukan agar ada forum yang bisa membahas isu-isu Bersama,โ€ sarannya.

Akhirnya, dalam pengamatannya, di jagat dunia maya, Muhammadiyah jauh tertinggal dari gerakan organisasi lain. Menurut dia, seharusnya, tagline berkemajuan tidak hanya diwujudkan dalam urusan pendidikan dan kesehatan, tetapi juga terkait penguasaan dunia digital.

โ€œDiakui atau tidak, kita itu kalah dari ormas yang tidak ada tagline โ€˜berkemajuannyaโ€™. Dalam pemberitaan atau konten-konten virtual. Kita punya kampus, punya jurusan IT, tapi kalah dakwah di sosial media, dunia virtual. Itulah yang perlu kita renungkan kembali. Barangkali kita berkumpul di sini, bisa memberikan masukan-masukan dan merajut kekompakan strategi dakwah bersama,โ€ tutur dia.

Menurutnya, pagelaran Muktamar ke- 48 menjadi momen yang tepat untuk menyatukan media afiliasi Muhammadiyah. Sebab, Muktamar merupakan penentu kelangsungan roda organisasi Muhammadiyah.   Selain itu, tambah dia, sebaik apapun hasil Muktamar nanti tanpa diberitakan secara serempak tidak akan bermakna. Itu pun harusnya disamakan langkahnya agar media satu dengan lainnya tidak saling menjatuhkan.

โ€œSetelah ada keputusan muktamar diluringkan, saya koordinasi dengan Pak Budi Santoso (panitia Muktamar bidang media) sehingga dalam tempo sepekan disepakati untuk menggelar Jambore ini. Muktamar sangat mengapresiasi kegiatan ini dan berharap banyak media afiliasi Muhammadiyah dalam mensyiarkan Muktamar. Saya hubungi satu persatu yang punya website yang saya tidak tahu pemiliknya. Tetapi saya tahu bahwa media ini berafiliasi Muhammadiyah dengan domain berakhiran MU. Alhamdulillah banyak yang berkenan bergabung,โ€ ujarnya

Hadis

Salat Saat Terjadi Bencana

Oleh : Achmad Zuhdi Dh

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุงู„ุฃูŽุฒู’ุฑูŽู‚ู ุจู’ู†ู ู‚ูŽูŠู’ุณู ู‚ูŽุงู„ูŽ: ูƒูู†ู‘ูŽุง ุจูุงู„ุฃูŽู‡ู’ูˆูŽุงุฒู ู†ูู‚ูŽุงุชูู„ู ุงู„ู’ุญูŽุฑููˆุฑููŠู‘ูŽุฉูŽ ููŽุจูŽูŠู’ู†ูŽุง ุฃูŽู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌูุฑููู ู†ูŽู‡ูŽุฑู ุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฌูู„ูŒ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠุŒ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ู„ูุฌูŽุงู…ู ุฏูŽุงุจู‘ูŽุชูู‡ู ุจููŠูŽุฏูู‡ู ููŽุฌูŽุนูŽู„ูŽุชู ุงู„ุฏู‘ูŽุงุจู‘ูŽุฉู ุชูู†ูŽุงุฒูุนูู‡ู ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ูŠูŽุชู’ุจูŽุนูู‡ูŽุง

Al-Azraq bin Qais menceritakan: "Kami pernah berada di daerah Al-Ahwaz memerangi kelompok Haruriyyah. Ketika aku berada di tepian sungai ada seseorang yang sedang mengerjakan salat sementara dia tetap memegang tali kekang tunggangannya. Maka hewan tunggangannya mengganggunya dengan bergerak kesana kemari hingga ia mengikuti kemana gerak hewannya itu" (HR. al-Bukhari No. 1211).

Status Hadis

            Hadis tersebut dinilai sahih oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari No. 1211. Beberapa ulama Hadis yang juga meriwayatkan hadis tersebut adalah Imam Ahmad dalam Musnad Ahmad No. 19770, Imam al-Bayhaqi dalam Sunan al-Bayhaqi No. 3249, Imam Ibn al-Atsir dalam Jamiโ€™ al-Ushul No. 3719, Imam al-Nawawi dalam Khulasat al-Ahkam No. 1725, dan al-Mizzi dalam Tuhfat al-Asyraf No. 11953. Al-Albani juga menilai hadis tersebut sahih (al-Albani, al-Silsilah al-Shahihah al-Kamilah, III/387).

Kandungan Hadis

            Hadis tersebut menjelaskan tentang seorang sahabat Nabi yang bernama Abu Barzah Al-Aslamiy yang sedang melaksanakan salat di tepi sungai. Saat sedang salat beliau sambil memegang tali kendali hewan untanya. Tiba-tiba untanya lari ke sana kemari, dan beliau terpaksa mengikuti gerak hewannya. Ia membatalkan salatnya.

 Dalam redaksi yang lengkap telah diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab al-Sahih sebagai berikut:

ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽู†ูŽุง ุงู„ู’ุฃูŽุฒู’ุฑูŽู‚ู ุจู’ู†ู ู‚ูŽูŠู’ุณู ู‚ูŽุงู„ูŽ ูƒูู†ู‘ูŽุง ุจูุงู„ู’ุฃูŽู‡ู’ูˆูŽุงุฒู ู†ูู‚ูŽุงุชูู„ู ุงู„ู’ุญูŽุฑููˆุฑููŠู‘ูŽุฉูŽ ููŽุจูŽูŠู’ู†ูŽุง ุฃูŽู†ูŽุง ุนูŽู„ูŽู‰ ุฌูุฑููู ู†ูŽู‡ูŽุฑู ุฅูุฐูŽุง ุฑูŽุฌูู„ูŒ ูŠูุตูŽู„ู‘ููŠ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ู„ูุฌูŽุงู…ู ุฏูŽุงุจู‘ูŽุชูู‡ู ุจููŠูŽุฏูู‡ู ููŽุฌูŽุนูŽู„ูŽุชู’ ุงู„ุฏู‘ูŽุงุจู‘ูŽุฉู ุชูู†ูŽุงุฒูุนูู‡ู ูˆูŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ูŠูŽุชู’ุจูŽุนูู‡ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ุดูุนู’ุจูŽุฉู ู‡ููˆูŽ ุฃูŽุจููˆ ุจูŽุฑู’ุฒูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุฃูŽุณู’ู„ูŽู…ููŠู‘ู ููŽุฌูŽุนูŽู„ูŽ ุฑูŽุฌูู„ูŒ ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ุฎูŽูˆูŽุงุฑูุฌู ูŠูŽู‚ููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูู…ู‘ูŽ ุงูู’ุนูŽู„ู’ ุจูู‡ูŽุฐูŽุง ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุฎู ููŽู„ูŽู…ู‘ูŽุง ุงู†ู’ุตูŽุฑูŽููŽ ุงู„ุดู‘ูŽูŠู’ุฎู ู‚ูŽุงู„ูŽ ุฅูู†ู‘ููŠ ุณูŽู…ูุนู’ุชู ู‚ูŽูˆู’ู„ูŽูƒูู…ู’ ูˆูŽุฅูู†ู‘ููŠ ุบูŽุฒูŽูˆู’ุชู ู…ูŽุนูŽ ุฑูŽุณููˆู„ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ุณูุชู‘ูŽ ุบูŽุฒูŽูˆูŽุงุชู ุฃูŽูˆู’ ุณูŽุจู’ุนูŽ ุบูŽุฒูŽูˆูŽุงุชู ูˆูŽุซูŽู…ูŽุงู†ููŠูŽ ูˆูŽุดูŽู‡ูุฏู’ุชู ุชูŽูŠู’ุณููŠุฑูŽู‡ู ูˆูŽุฅูู†ู‘ููŠ ุฅูู†ู’ ูƒูู†ู’ุชู ุฃูŽู†ู’ ุฃูุฑูŽุงุฌูุนูŽ ู…ูŽุนูŽ ุฏูŽุงุจู‘ูŽุชููŠ ุฃูŽุญูŽุจู‘ู ุฅูู„ูŽูŠู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽู†ู’ ุฃูŽุฏูŽุนูŽู‡ูŽุง ุชูŽุฑู’ุฌูุนู ุฅูู„ูŽู‰ ู…ูŽุฃู’ู„ูŽููู‡ูŽุง ููŽูŠูŽุดูู‚ู‘ู ุนูŽู„ูŽูŠู‘ูŽ.

Artinya: Al-Azraq bin Qais menceritakan: "Kami pernah berada di daerah Al-Ahwaz ketika kami memerangi kelompok Haruriyyah. Ketika aku berada di tepian sungai ada seseorang yang sedang mengerjakan salat sementara dia tetap memegang tali kekang tunggangannya. Maka hewan tunggangannya mengganggunya dengan bergerak kesana kemari hingga ia mengikuti kemana gerak hewannya itu". Syu'bah berkata bahwa dia adalah Abu Barzah Al-Aslamiy (Sahabat Nabi saw); Tiba-tiba seorang dari Khawarij berkata: "Ya Allah, apa yang dilakukan orang ini?" Ketika orang tadi selesai dari salatnya, dia berkata; "Sungguh aku mendengar percakapan kalian. Sungguh aku sudah pernah ikut berperang bersama Rasulullah saw. sebanyak enam, tujuh atau hingga delapan kali peperangan dan aku menyaksikan kemudahan-kemudahan yang Beliau ajarkan. Bagiku mengikuti hewan tungganganku itu lebih aku sukai daripada aku memaksa kembali ke padang gembalaan tempat hewan itu biasa berkeliaran, yang nanti pasti lebih menyulitkan aku" (HR. Bukhari No. 1211).

Para ulama fikih sepakat bahwa hadis tersebut bisa dijadikan sebagai dasar atau dalil bolehnya menghentikan salat ketika terjadi musibah yang dapat membahayakan dirinya atau saat terjadi bencana alam secara mendadak. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fath al-Bari, mengatakan:

  ูˆูŽูููŠู‡ู ุญูุฌู‘ูŽุฉูŒ ู„ูู„ู’ููู‚ูŽู‡ูŽุงุกู ูููŠ ู‚ูŽูˆู’ู„ูู‡ูู…ู’: ุฃูŽู†ู‘ูŽ ูƒูู„ู‘ูŽ ุดูŽูŠู’ุกู ูŠูุฎู’ุดูŽู‰ ุฅูุชู’ู„ูŽุงููู‡ู ู…ูู†ู’ ู…ูŽุชูŽุงุนู ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ูŠูŽุฌููˆุฒู ู‚ูŽุทู’ุนู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽุงุฉู ู„ูุฃูŽุฌู’ู„ูู‡ู

 Artinya: โ€œHadits ini menjadi dalil para fuqaha bahwa pada segala situasi dan kondisi yang dikhawatirkan dapat merusak harta benda dan lain-lain, seseorang boleh menghentikan salat karenanya" (al-Asqalani, Fath al-Bari, III/82).

            Pada prinsipnya, ketika seseorang sudah memulai salatnya, ia tidak diperkenankan membatalkan salatnya, kecuali ada uzur. Imam Syafii mengatakan:

ุฅูุฐูŽุง ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูŽูƒู’ุชููˆู’ุจูŽุฉู ูููŠ ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ู ูˆูŽู‚ู’ุชูู‡ูŽุง ุฃูŽูˆู’ ุบูŽูŠู’ุฑูู‡ู ุญูุฑูู…ูŽ ู‚ูŽุทู’ุนูู‡ูŽุง ุจูุบูŽูŠู’ุฑู ุนูุฐู’ุฑู

 โ€œJika seseorang sudah masuk ke dalam salat wajib, baik di awal waktu maupun tidak di awal waktu, maka ia diharamkan (dilarang) untuk menghentikan salatnya tanpa udzur (al-Nawawi, al-Majmuโ€™, III/74).

Keterangan Imam Syafii tersebut menegaskan bahwa apabila seseorang sudah memulai salat maka tidak diperbolehkan atau diharamkan membatalkan salatnya, kecuali ada udzur. Hal ini menunjukkan bahwa larangan membatalkan salat itu berlaku apabila dalam keadaan normal. Namun, apabila ada udzur misalnya terjadi musibah atau bencana alam seperti gempa di sekitarnya atau ada sebab lainnya yang dapat membahayakan dirinya, maka membatalkan salat saat itu diperbolehkan demi menyelamatkan diri (jiwa)nya.

Membatalkan salat demi menyelematkan diri karena terjadi bencana tersebut telah dibenarkan oleh Allah swt dalam firman-Nya:

ูˆูŽู„ุง ุชูู„ู’ู‚ููˆุง ุจูุฃูŽูŠู’ุฏููŠูƒูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ุชู‘ูŽู‡ู’ู„ููƒูŽุฉู ูˆูŽุฃูŽุญู’ุณูู†ููˆุง ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ูŠูุญูุจู‘ู ุงู„ู’ู…ูุญู’ุณูู†ููŠู†ูŽ

โ€œDan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baikโ€ (QS. Al Baqarah: 195).

Juga berdasarkan sabda Nabi Saw:   ู„ูŽุง ุถูŽุฑูŽุฑูŽ ูˆูŽู„ุง ุถูุฑูŽุงุฑูŽ

โ€œTidak boleh membahayakan (diri sendiri) dan tidak boleh membahayakan (untuk orang lain)โ€ (HR. Ahmad No. 2865 dan Ibnu Majah No. 2341). Al-Albani menilai hadis ini sahih (Irwa al-Ghalil, III/408).

Ibnu Rajab dalam kitabnya Fath al-Bari mengutip beberapa pendapat ulama sebelumnya. Qatadah berkata: โ€œJika pakaiannya telah dicuri maka ia mengikuti pencurinya dan meninggalkan salatnyaโ€. Abdur Razzaq telah meriwayatkan di dalam kitabnya dari Muโ€™ammar dari al-Hasan dan Qatadah terkait seorang laki-laki yang saat mendirikan salat, binatang tunggangannya pergi atau diserang oleh binatang buas? Keduanya menjawab: โ€œIa boleh pergi (memutus salatnya)โ€.

Dari Muโ€™ammar, dari Qatadah, ia berkata: โ€œSaya telah bertanya kepadanya, saya katakan: โ€œAda seorang laki-laki sedang salat, lalu ia melihat seorang bayi di pinggir sumur, ia merasa khawatir bahwa bayi itu akan jatuh ke dalamnya, apakah ia boleh pergi (memutus salatnya)?โ€, dia berkata: โ€œYaโ€, saya katakan: โ€œlalu ia melihat seorang pencuri yang ingin mengambil kedua sandalnya?โ€, ia menjawab: ya boleh pergi (memutus salatnya).

Menurut madzhab Sufyan: โ€œJika tiba-tiba terjadi sesuatu yang janggal, sementara seseorang sedang berada di dalam salat, maka ia pun (boleh) memutus (salatnya)โ€, diriwayatkan terkait hal ini dari Muโ€™afa. Demikian juga jika ia mengkhawatirkan ternak dan tunggangannya lepas. Menurut madzhab Malik: โ€œBagi orang yang binatang tunggangannya lepas, sementara ia dalam keadaan salat, maka ia berjalan mendekatinya jika tunggangannya tersebut berada di hadapannya, atau sebelah kanan atau kirinya. Jika berada jauh dari jangkauannya maka ia mencarinya dan menghentikan salatnyaโ€ (ูˆุฅู† ุจุนุฏุช ุทู„ุจู‡ุง ูˆู‚ุทุน ุงู„ุตู‘ูŽู„ุงุฉ).

Menurut madzhab sahabat-sahabat kami: โ€œJika ia melihat orang yang tenggelam atau terbakar, atau kedua anak yang sedang berperang, atau yang serupa dengannya, sementara ia mampu untuk menyelamatkannya, maka ia boleh menghentikan salatnya dan menyelamatkannyaโ€. Di antara mereka ada yang membatasinya pada salat sunnah, dan yang benar adalah mencakup pada salat wajib dan yang lainnya.

Imam Ahmad juga berkata:  ุฅุฐุง ุฑุฃู‰ ุตุจูŠุงู‹ ูŠู‚ุน ููŠ ุจุฆุฑุŒ ูŠู‚ุทุน ุตู„ุงุชู‡ ูˆูŠุฃุฎุฐู‡

โ€œJika ia melihat seorang anak jatuh ke dalam sumur, maka ia menghentikan salatnya dan menolongnyaโ€. Sebagian sahabat kami berkata: โ€œIa menghentikan salatnya jika membutuhkan banyak pekerjaan untuk menolongnya, jika pekerjaan tersebut ringan maka tidak perlu membatalkan salatnyaโ€. Demikian juga perkataan Abu Bakar terkait dengan orang yang keluar (dari salat) menyusul orang yang berutang dan lalu ia kembali dan memulai salatnya lagiโ€ (Ibn Rajab, Fath al-Bari, VI/400-401).

Al-Bahuti dalam kitab Kisyaf al-Qina menegaskan bahwa menyelamatkan orang yang tenggelam atau korban kebakaran hukumnya wajib. Sungguhpun ia sedang melaksanakan salat wajib atau sunnah, ia harus membatalkan salatnya dulu untuk bisa menolong orang yang sedang dalam bahaya tersebut. Ketentuan ini berlaku meskipun waktunya pendek. Sedangkan salat masih tetap bisa dilakukan dengan cara qadha (dikerjakan pada waktu yang lain saat sudah aman). Berbeda dengan menolong orang tenggelam atau semacamnya yang harus disegerakan. Jika dia tidak mau membatalkan salatnya untuk menyelamatkan orang yang tenggelam atau korban lainnya, maka dia berdosa meskpiun salatnya sah (Kasyaf al-Qiโ€™na, 1/380).

Sikap tersebut sesuai dengan kaidah fiqh yang ditulis Al-Subki dalam kitabnya al-Asybah Wa al-Nadzair (I/476) yang berbunyi:

 ุฏุฑุก ุงู„ู…ูุงุณุฏ ุฃูˆู„ู‰ ู…ู† ุฌู„ุจ ุงู„ู…ุตุงู„ุญ

 โ€œMenghindari mafsadah (potensi bahaya) lebih didahulukan (diutamakan) daripada mengambil maslahat (kebaikan).

            Dalam kondisi salat tidak dapat dilakukan pada waktunya karena alasan darurat, maka salat dapat dilakukan pada waktu yang memungkinkan (aman dan tidak berbahaya). Pada dasarnya tidak ada dalil yang kuat untuk menqadha salat terutama bagi mereka yang tidak melaksanakan salat. Akan tetapi jika ada seseorang yang tertidur atau karena lupa, maka yang bersangkitan melakukan salat ketika ia terbangun atau ketika ingat (HPT-3 hal. 674-676).

Berdasarkan dalil-dalil tersebut, baik dari al-Qurโ€™an, al-Hadis, maupun ijtihad para ulama, dapat disimpulkan bahwa apabila seseorang sedang melaksanakan salat, kemudian tiba-tiba terjadi musibah seperti bencana alam atau musibah lainnya yang dimungkinkan dapat membahayakan dirinya apabila diteruskan salatnya, maka saat itu ia diperbolehkan menghentikan atau membatalkan salatnya. Selanjutnya ia bisa melaksanakan (melanjutkan) salatnya tadi apabila situasi dan kondisi sudah aman. Wallahu Aโ€™lam!

Bincang โ€˜Aisyiyah September 2022

Siapkan Perempuan  Berkemajuan melalui  BLK Komunitas

Muktamar โ€˜Aisyiyah ke 48 tinggal hitungan bulan. Pimpinan Wilayah โ€˜Aisyiyah (PWA) Jawa  Timur melakukan kajian  untuk memperkuat pembahasan materi pada saat pelaksanaan Muktamar. Beberapa persiapan konseptual dan program telah dicanangkan.

Sementara itu kader bagi suatu organisasi ibarat embrio keberlangsungan estafet perjuangan. Mereka memiliki peran sebagai generasi penerus dengan tugas meneruskan risalah perkaderan yang diistilahkan sebagai penjaga gawang ideologi. Bagi โ€˜Aisyiyah dan Muhammadiyah kaderisasi merupakan hal yang mutlak dan vital.

Berbicara mengenai kaderisasi anggotanya, Ketua Majelis Pembinaan Kader (MPK)  PWA Jatim Ir Hafifah Imtihanah menjelaskan tentang upaya pengkaderan PWA Jatim. โ€œSejak awal periode PWA Jatim sudah meralisasikan ToT (Training of Trainer) Baitul Arqam sampai ke daerah dan cabang, selain itu kita adakan program perkaderan keluarga melalui kajian tematik ayat-ayat gerakan dan juga melalui seminar-seminar yang diselenggarakan dengan ongsong mengikutsertakan putri pimpinan maupun anggota keluarganya baik di tingkatan wilayah maupun cabang,โ€ jelasnya.

PWA Jatim melakukan Training of Trainer Tarbiatul Mar'ah Aisyiyah berkerjasama dengan Majelis Tabligh. Kegiatan ini bertujuan untuk melatih fasilitator daerah, dengan mengirimkan utusan sebanyak 3 orang melalui masing-masing Pimpinan Daerah โ€˜Aisyiyah (PDA).

Tarbiyatul Marโ€™ah merupakan salah satu model perkaderan โ€˜Aisyiyah (non formal) yang dirancang untuk mempersiapkan fasilitator โ€˜Aisyiyah sesuai bidang keahliannya. Sehingga, para fasilitator ini memiliki kemampuan dan kecakapan dalam berdialog dengan berbagai corak perkembangan pemikiran keagamaan dan keilmuan berlandaskan argumen yang kuat sesuai agama dan nilai-nilai Islam berkemajuan.

Lahirkan Perempuan Berkemajuan

Selain itu mereka diharapkan mampu menginternalisasi ideologi Muhammadiyah dalam tugas membimbing umat. Melalui kegiatan ToT Tarbiyatul Marโ€™ah  ini fasilitator dapat mengenal lebih baik spirit Gerakan dakwah Muhammadiyah/ โ€˜Aisyiyah sehingga dapat menjadi penggerak dakwah Persyarikatan di masyarakat lingkungannya.

Ia menambahkan, ketika mengikuti ToT peserta  bisa meningkatkan kualitas kader yang memiliki martabat (ilmu dan adab). โ€œBahwa perempuan jika bisa mengembangkan potensi dirinya maka akan banyak capain yang dapat dikembangkan. Kalau pribadinya sudah oke dan paham akan potensi dirinya, maka akan mudah untuk menyampaikan ilmu dan pengalaman kepada orang lain,โ€ ujarnya.

Dengan melatih fasilitator kepemimpinan dan perempuan yang berkualitas secara berkesinambungan sampai ke level PDA. โ€œSehingga dari sekarang sudah mulai membidik calon - calon pimpinan khususnya di Ranting dan Cabang yang menjadi garis depan gerakan karena langsung berhubungan dengan akar rumput,โ€ tandasnya.

Kaderisasi yang terencana dan baik akan menghasilkan kepemimpinan yang sukses. Proses pengkaderan perempuan di wilayah โ€˜Aisyiyah Jatim tidak berlangsung secara instan diperlukan konsistensi dalam mendampingi para kader. Oleh karena pengkaderan yang intensif harus menjadi prioritas utama bagi pimpinan โ€˜Aisyiyah di semua tingkatan

Salah satunya dimulai dari kaderisasi lingkungan keluarga. Menurut Dra Hj Rukmini Amar (Wakil Ketua Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah (PWAJawa Timur) pemimpin perempuan lahir dari keluarga. Untuk itu, peran keluarga mendapat porsi penting dalam hal pengkaderan. โ€œKeluarga akan memberikan dukungan jika berupaya untuk dipahamkan maksud dan tujuan serta arah perjuangannya, berikan komunikasi yang baik dengan keluarga melalui pemenuhan hak dan kewajiban. Oleh karena itu, pemimpin perempuan harus mampu menjadi cermin bagi keluarga dan sekitarnya.. Jika masih punya persoalan dengan dirinya,tentunya tidak bisa secara total dalam tugas kepemimpinan,โ€ jelasnya.

Ia menjelaskan tentang tujuh karakter ideal pimpinan 'Aisyiyah. Pertama, memiliki komitmen, kompetensi dan integritas terkait dengan akhlakul karimah. Kedua, amanah dengan kepercayaan sehingga dapat bersinergi dan memiliki jaringan silaturrahmi dengan pihak terkait. Ketiga, mampu memobilisasi masa. Keempat, dapat mengagendakan perubahan sehingga mampu memproyeksikan masa depan dengan baik. Kelima, mampu memadukan agenda visi strategis secara sistimatis. Keenam, loyalitas dan semangat cita-cita dan tujuan organisasi dipahami dan kepribadiannya menyatu dengan segala yang dimilikinya tenaga, pikiran dan harta. Ketujuh,  memiliki kepribadian seperti yang termuat di QS.Ali Imran 159 (lembut tapi tegas, pemaaf, memintakan ampun pada Allah, musyawarah, tawakkal /melibatkan Allah dalam semua ikhtiar dan doa  maksimalnya)

Risalah

Melawan Komunis

Oleh : Syafiq A Mughni (Guru Besar UIN Sunan Ampel dan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

Ketika masih duduk di sekolah menengah, teman-teman santri Pesantren Persis pada 1968 asyik mendengarkan pidato seorang orator. Perawakannya kecil tapi suaranya menggelegar. Orang menyebutnya singa podium karena bersuara lantang dan tegas. Teman-teman seperjuangan juga menyebutnya Napoleon Indonesia karena perawakannya yang tidak begitu tinggi. Orator itu adalah KH Isa Anshari, seorang ulama, penulis, politikus, dan pemimpin ormas keagamaan, yang dikenal anti-komunis. Lahir di Sumatera Barat (1916), ia aktif menjadi mubaligh Muhammadiyah pada masa mudanya. Ketika merantau ke Bandung, ia ikut mendirikan Muhammadiyah di kota itu. Pada saat yang sama ia bergabung dengan Persatuan Islam (Persis), sebuah organisasi pembaharu di bawah pengaruh guru utamanya A Hassan.

Di kota itu ia menjadi aktivis dalam arti sebenarnya. Ia pernah menjabat Ketua Persatuan Muslimin Indonesia, Persatuan Pemuda Rakyat Indonesia, dan Sekretaris Partai Islam Indonesia, Bandung. Ia juga aktif menjadi anggota Indonesia Berparlemen, Sekretaris Umum Komite Pembela Islam, Pemimpin Redaksi Majalah Daulah Islamiyah, dan Ketua Partai Masyumi Jawa Barat. Ia juga mengomandani Gerakan Anti Fasis (Geraf). Selanjutnya, ia menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Persis (1953-1960). Ketika memimpin Persis, pada masa berjayanya Sukarno, PKI dan Nasakom (Nasionalis, Agama dan Komunis), beliau bersama ulama Persatuan Islam mengeluarkan โ€œManifesto Persisโ€.  Salah satu isinya adalah penolakan terhadap Nasakom dan mengajak semua ulama dan pejuang Islam melawan komunisme.

Beliau juga mengatakan bahwa komunis sesungguhnya menganut hukum rimba. Prinsipnya, โ€œApa yang dapat kau rampas itulah hakmu.โ€ Demikian, kata beliau ketika menjelaskan prinsip perjuangan kaum komunis. โ€œSesungguhnya penyusunan kekuasaan yang direncanakan mereka di seluruh dunia pada hakikatnya untuk menegakkan hukum rimba semata. Ini bertentangan dengan Islam yang menyerukan keadilan,โ€ kata beliau. Ia selanjutnya mengatakan bahwa ideologi komunis tanpa moral. Segala hal yang berkaitan dengan moral dan kesusilaan bagi mereka justru sebagai pagar-pagar yang dibuat kalangan borjuis untuk mengekalabadikan kekuasaanya. Ini hanya menjadi hambatan mereka dalam memperjuangkan ideologi komunisme. Untuk menggapai tujuan, jika cara pembunuhan harus ditempuh, maka itu sah-sah saja bagi mereka. Padahal, dalam Islam moral dan kesusilaan diakui dan tidak boleh sembarang membunuh tanpa alasan yang benar