Fokus

HIJRAH PEMIKIRAN DAN TINDAKAN SOLUSI KEMANUSIAAN DAN KENEGARAAN

   Setiap pergantian tahun baru Hijriah kita selalu diingatkan pada tonggak sejarah monumental Islam. Apa lagi kalau bukan peristiwa Hijrah Rasulullah Muhammad saw dari Makkah ke Madinah. Proses migrasi yang bersifat territorial atau fisik sekaligus spiritual atau mental. Akhir Juli ini tanpa terasa kita sudah mulai memasuki tahun ke 1444 Hijriah.

   Kata Hijrah akhir-akhir ini juga telah meluas menjadi istilah yang merujuk kepada proses perkembangan kehidupan spiritual seseorang atau kelompok masyarakat yang bertumpu pada meningkatnya kesadaran relijius berhadapan dengan sejumlah tantangan kehidupan modern yang juga menyisakan kekongan jiwa dalam memaknai kehidupan. Dari sini tumbuhlah sejumlah ekspresi dan aktualisasi pikiran, sikap, dan perbuatan baru yang lebih baik dari sebelumnya.

   Dalam pandangan Ketua Umum PP Muhammadiyah,  Prof Haedar Nashir, Hijrah dalam Islam berpindah dari kondisi yang serba mengekang menuju keadaan yang lebih merdeka. Nabi dan kaum muslimin berpindah dari Makkah yang penuh ancaman ke daerah baru di Yasrib yang lebih bebas untuk menjalankan ajaran Islam untuk kebahagiaan hidup sejati manusia di dunia dan akhirat.

   Guru Besar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu menukil QS. Al Baqarah ayat 218 di mana Allah menggambarkan dalam Al-Qur’an tentang hijrah: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Baqarah: 218).

“Hijrah satu kesatuan dengan transendensi keimanan dan humanisasi proses mujahadah dalam kehidupan. Hijrah bukan soal perpindahan dari Mekkah ke Yastrib tapi juga proses perubahan untuk menuju satu tata baru,” katanya  seperti dilansir  di laman PP Muhammadiyah.

   Haedar menerangkan setelah Rasulullah SAW melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau banyak meletakkan fondasi-fondasi untuk membuat muslim diterima dan membuatnya sebagai pemimpin teladan. Bahkan, rasa hormat ini juga datang dari warga non-muslim, salah satunya dari warga Yahudi.

“Akhirnya terbangun peradaban yang lahir dari Islam, laki-laki dan perempuan dimuliakan martabatnya, Muhajirin dan Anshar bersatu. Setelah Nabi Saw wafat, dinamika internal di antara umat Islam pasti terjadi,” tutur Haedar.Haedar kemudian menegaskan bahwa hijrah merupakan proses berkelanjutan dengan spirit perubahan menuju ke keadaan yang lebih baik lagi.

Laporan Khusus

Dampak Pembatasan Usia dan Kuota Haji

   Setelah ditutup selama dua tahun akibat pandemi, kini penyelenggaraan ibadah haji kembali dibuka oleh pemerintah Arab Saudi. Namun, karena penyebaran covid-19 belum sepenuhnya usai, Saudi memberlakukan aturan batas usia Calon Jamaah Haji (CJH) maksimal 65 tahun.  Peraturan ini tentu berdampak pada CJH Indonesia yang sebagian besar berusia lanjut. Selain itu Saudi juga mengurangi jumlah kuota jamaah haji Indonesia juga lebih dari setengah. Dari 221.000 orang pada tahun 2019, sekarang menjadi 100.051 orang.

   Pimpinan KBIH Muhammadiyah Surabaya, Drs H Imam Subari menilai, aturan batasan usia bagi calon jamaah haji tahun ini memberatkan. Di samping membuat kecewa ribuan jamaah haji yang batal berangkat, juga akan menyebabkan penumpukan CJH lansia pada tahun berikutnya.

   "Efeknya, di musim haji tahun berikutnya mayoritas calon jamaah haji yang berangkat tua-tua semua. Di atas 65 tahun. Banyak di antara mereka yang ringkih dan mungkin punya masalah kesehatan sehingga kerjaan petugas kita nantinya akan lebih berat untuk mendampingi para jamaah," katanya.

   Dia menjelaskan, saat ini ada 196 CJH di KBIH Muhammadiyah Surabaya yang sudah melunasi pembayaran biaya ibadah haji tahun 2020. Sedangkan yang bisa berangkat hanya 93 jamaah. Sisanya, terbentur dengan aturan batas usia. Umumnya jamaah KBIH Muhammadiyah Surabaya adalah lansia, bahkan banyak di antaranya yang sudah antre selama 11 tahun, ditambah 2 tahun pandemi menjadi 13 tahun.

   "Insya Allah jamaah kita besok (6/6/22) malam jam 19.00 akan berangkat langsung terbang ke Madinah di Bandara Amir Mahmud bin Abdul Aziz. KBIH Muhammadiyah Surabaya ini masuk di kloter 5 gelombang 1. Gabung sama calon jamaah haji dari Lamongan," beber dia.

   Karena aturan ini, ada beberapa jamaah yang membatalkan niatnya berangkat ke tanah suci kemudian mengambil uang pelunasannya. Mengingat banyaknya calon jamaah haji lansia yang tidak bisa berangkat tahun ini, dia mengimbau kepada jamaahnya untuk tidak menarik kembali uangnya.

   "Tapi yang melakukan itu ya hanya satu dua orang, ada juga 5 jamaah yang meninggal tetapi digantikan (badal haji) anaknya untuk tahun depan. Kalau tahun sekarang anaknya tidak bisa ikut. Memang banyak yang tanya badal haji: Ustadz kalau badal haji berapa? Syaratnya apa? Itu banyak, mungkin lebih dari 10 orang. Tapi saya jawab: Di Muhammadiyah itu tidak mengenal badal haji orang lain. Kalau ada badal haji itu yang membadali itu keluarga sendiri dan itu sudah pernah haji. Kalau orang lain itu tidak ada tuntunannya di tarjih," tandasnya.

Hadis

Sombong Penghalang Hidayah

 (Oleh : Dr.H. Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya)

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ «لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ». قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً. قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ (رواه مسلم)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra., Nabi saw. bersabda: “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi”. Seseorang bertanya: “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. (HR. Muslim no. 275).

Status Hadis

            Hadis tersebut dinilai sahih oleh Imam Muslim dan dimasukkan ke dalam kitab al-Sahih no. 275. Selain diriwayatkan Imam Muslim, hadis tersebut juga diriwayatkan oleh sejumlah Imam hadis yang lain, di antaranya Imam Abu Dawud dalam al-Sunan no. 4094, Imam al-Tirmidzi dalam al-Sunan no. 1999, Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak no. 7366, Imam al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 556, Imam Ibn Hibban dalam al-Sahih no. 5466, Imam al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir no. 6479, Imam al-Thahawi dalam Syarh Musykil al-Atsar no. 5557, dan Imam al-Bayhaqi dalam Syu’ab al-Iman no. 5782.  Al-Albani juga menilai hadis tersebut sahih (Sahih al-Adab al-Mufrad, I/219).

Kandungan Hadis

            Hadis tersebut menerangkan bahwa bila seseorang ada kesombongan dalam hatinya, walaupun rasa sombong itu hanya sedikit, maka ia tidak akan bisa masuk ke dalam surga. Yang dimaksud dengan kesombongan itu buka lantaran memakai pakaian yang bagus atau alas kaki yang bagus, tetapi kesombongan yang sejati adalah menolak atau tidak mau menerima kebenaran dan meremehkan atau merendahkan orang lain.

            Faisal bin Abd al-Aziz dalam kitabnya Tathriz Riyad al-Shalihin mengatakan bahwa hadis tersebut menunjukkan haramnya bersikap sombong. Adapun menggunakan sesuatu (pakaian, kendaraan, dan lain-lain) yang bagus dan indah, asal tidak disertai rasa membanggakan diri dan bermegah-megahan, tetapi semata-mata untuk menikmati dan mensyukuri anugerah Allah swt., maka yang demikian itu tidak termasuk sikap al-kibr (sombong) (Faisal bin Abd al-Aziz, Tathriz Riyad al-Shalihin, I/404).

            Kesombongan itu ada dua macam, yaitu sombong terhadap al-haq (kebenaran) dan sombong terhadap al-khalq (makhluk Allah). Hal ini berdasarkan sabda Nabi saw. pada hadis di atas bahwa “sombong yang sebenarnya adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain”. Menolak kebenaran adalah dengan menolak dan berpaling darinya serta tidak mau menerimanya. Sedangkan meremehkan manusia yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya lebih baik dibandingkan dengan orang lain (al-Utsaimin, Syarh Riyad al-Shalihin, I/644).

Dua Macam Kesombongan

            Pertama, Sombong terhadap kebenaran (al-haq) adalah menolak kebenaran yang datang dari Allah dan Rasul-Nya dan tidak mau menerimanya. Sikap sombong inilah yang menyebabkan ia tidak bisa (terhalang) mendapatkan hidayah. Sesuai fitrahnya, seharusnya seorang hamba tunduk dan patuh kepada kebenaran. Karena itu maka orang-orang yang dinyatakan sombong yakni tidak mau patuh kepada risalah Allah dan Rasul-Nya, ia dinyatakan kafir dan terancam masuk ke dalam neraka. Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda:

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

“Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong)” (HR. al-Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).

Karena itu, wajib bagi setiap mukmin untuk bertekad bulat dalam mendahulukan kebenaran (petunjuk Allah dan Rasul-Nya) di atas pendapat orang lain, siapapun orangnya. Selanjutnya memperhatikan hasil-hasil ijtihad ulama terdahulu yang merujuk kepada kedua Kitab tersebut. Apabila seorang mukmin sudah berusaha mencari kebenaran melalui cara-cara tersebut dan masih ada kesalahan yang mungkin karena keterbatasan dalam memahaminya, maka kesalahannya akan dimaafkan, karena dalam hatinya sudah bermaksud untuk menerima kebenaran dari Allah dan Rasul-Nya. Sikap inilah yang kemudian disebut sebagai orang yang rendah hati (tawadhu) terhadap kebenaran.

Kedua, sombong terhadap sesama manusia adalah bersikap meremehkan dan merendahkan orang lain. Sikap seperti ini bisa muncul karena adanya I’jab al-mar’i binafsih (bangga terhadap dirinya sendiri) dan merasa lebih hebat dan lebih mulia daripada orang lain. Adanya sifat ujub ini akan membawa seseorang untuk merasa lebih hebat (sombong) daripada orang lain, kemudian meremehkan dan mengolok-olok mereka serta merendahkan mereka dengan ucapan dan perbuatannya. Rasulullah saw. memperingatkan:

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

“Cukuplah seseorang dikatakan berbuat kejelekan (kejahatan) dengan merendahkan saudaranya sesama muslim” (H.R muslim no. 6706).

            Banyak prilaku dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dikategorikan kesombongan. Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin mencontohkan beberapa sikap sombong, di antaranya membantah guru, memperpanjang pembicaraan, serta menunjukkan adab buruk kepadanya. Bentuk kesombongan lain adalah menganggap rendah orang yang telah memberikan masukan (pikiran) kepadanya hanya karena dia berasal dari kalangan yang lebih rendah. Ini banyak menimpa para penuntut ilmu. Bila ada seseorang yang mengabarkan sesuatu sedangkan pemberi kabar itu posisi keilmuannya lebih rendah darinya, dia menganggap rendah (tidak penting) berita itu dan tak mau menerimanya (al-Utsaimin, Kitab al-Ilmi, I/48).

            Lebih lanjut al-Utsaimin mengatakan bahwa ilmu (hidayah) akan menghindar dari orang yang sombong dan selalu merasa dirinya lebih tinggi dari yang lain. Ibarat air, ia selalu menghindari tempat yang tinggi. Sebab, tempat yang tinggi akan menyingkirkan aliran air ke kanan atau kiri dan tidak akan ada yang tergenang di atasnya. Begitu pula halnya dengan ilmu (hidayah), ia tidak akan menetap bersama kesombongan dan keangkuhan, bahkan bisa jadi ilmu (hidayah) itu tercabut karena kesombongan tersebut. Karena sifat sombongnya, seseorang selalu menganggap apa yang diucapkannya benar, sedangkan orang lain salah. Orang sombong, menurut al-Utsaimin, biasanya gila pujian. Jika mengetahui banyak orang memujinya, ia girang bukan main dan bertambahlah keangkuhannya.

Selain karena merasa banyak ilmu, tak sedikit pula orang yang menjadi sombong lantaran banyak harta. Seorang yang alim atau memiliki pengetahuan agama yang baik, menurut al-Utsaimin, tidak selayaknya bersikap seperti orang kaya, di mana setiap kali bertambah ilmunya bertambah pula kesombongannya. Mestinya, setiap kali bertambah ilmu, bertambah pula tawadhunya (rendah hati). Contohlah akhlak Nabi Muhammad saw. Beliau senantiasa tawadhu pada kebenaran dan tawadhu pula kepada sesama. Jika suatu saat terjadi benturan antara tawadhu pada kebenaran dan tawadhu pada manusia, Al-Utsaimin menegaskan, tawadhu pada kebenaran harus lebih diutamakan. Misalnya, jika ada orang yang mencela kebenaran dan merasa bangga bermusuhan dengan orang yang mengamalkan kebenaran, maka dalam kondisi ini engkau tidak boleh bersikap tawadhu kepadanya. Debatlah orang itu, sekali pun ia menghina atau memakimu. Bagaimanapun, engkau harus menolong kebenaran (al-Utsaimin, Kitab al-Ilmi, I/173).

Konsultasi Agama

Kapan Puasa Arafah?

 (Oleh: Dr Zainuddin MZ, Lc MA - Direktur Markaz Turats Nabawi)

Pendahuluan

   Pada setiap menghadapi hari raya Idul Adha selalu muncul pertanyaan puasa Arafah, apakah puasa Arafah mesti berbarengan dengan wukuf haji di Arafah tanggal 9 Dzulhijah? Sedangkan di tiap wilayah di dunia ada selisih waktu. Bahkan Rasulullah sudah puasa Arafah sebelum datang kewajiban haji 10 H.

   Suatu saat sebagian teman-teman mengalami dilema, berpuasa Arafahnya harus mengikuti saat jamaah haji wukuf di Arafah, sementara berhari rayanya harus mengikuti ketentuan pemerintah Indonesia.

   Masalahnya, wukuf jamaah haji jatuh pada hari Senin, sementara pengumuman pemerintah Indonesia hari raya Idul Adha jatuh pada hari Rabu. Lantas apa yang dilakukan pada hari Selasa? Karena ia meyakini puasa Arafah itu pada hari saat pelaku haji wukuf di Arafah, bukan pada tanggal 9 Dzulhijah berdasarkan kalender Indonesia.

PUASA ARAFAH SEBELUM HAJI WADA’

Sebagian ulama ada yang berpendapat bahwa Nabi saw. telah berpuasa tanggal 9 di bulan Dzulhijjah sebelum pergi haji Wada’ beralil sebagai berikut:

عَنْ هُنَيْدَةَ بْنِ خَالِدٍ، عَنْ امْرَأَتِهِ، قَالَتْ: حَدَّثَتْنِي بَعْضُ نِسَاءِ النَّبِيِّ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَتِسْعًا مِنْ ذِي الْحِجَّةِ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنَ الشَّهْرِ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنَ الشَّهْرِ وَخَمِيسَيْنِ

Dinarasikan Hunaidah bin Khalid dari istrinya dari sebagian istri Nabi: Rasulullah saw. berpuasa pada hari Asyura, sembilan hari dari bulan Dzulhijjah, tiga hari dari setiap bulan, hari Senin pertama dan dua Kamis berikutnya.

Hadits ini dikeluarkan Nasai: 2372, 2417; Abu Dawud: 2437; Ahmad: 22334, 26468, 27376.

Hadits tersebut dinilai Albani shahih. (Periksa Shahih Sunan Nasai: 2372, dan Shahih Abu Dawud: 2106). Namun Albani juga menilainya dhaif. (Periksa Dhaif Jami’ Shaghir: 4570).

Hadits di atas dikeluarkan para kodifikator dengan sanad: Abu Awanah dari Hur bin Shayah dari Hunaidah bin Khalid dari istrinya dari sebagian istri Nabi saw.

Dengan demikian pentashihan Albani tersebut perlu ditinjau ulang. Akar masalahnya karena terjadi kekacau balauan pada sanadnya. Hunaidah ada meriwayatkan dari istrinya, ada dari ibunya, ada tanpa dari istri dan ibunya. Itulah sebabnya Zaila’i menilainya lemah. Periksa Nusbu Rayah: 2/157.

Jika hadits itu layak dijadikan hujah, konotasinya bukan menunjukkan Rasulullah saw. berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah, melainkan berpuasa selama 9 hari di bulan Dzulhijjah, wallahu a’lam.

Jika dipaksakan pemaknaannya pada tanggal 9 Dzulhijjah, maka hal itu dilakukan Nabi saw. sebelum haji Wada’.

Sebagaimana dimaklumi, tahun 9H, di bulan Dzul Qa’dah Nabi saw. memerintah Abu Bakar memimpin haji. Inilah haji pertama yang disyariatkan Nabi saw.

Kemudian pada tahun 10H, Nabi saw. melaksanakan haji Wada’, dan beliau wafat pada bulan Rabiul Awal tahun 11H. Artinya Nabi saw. sudah tidak menjumpai bulan Dzulhijjah di tahun 11H itu.

Dengan demikian informasi bahwa Nabi saw. berpuasa tanggal 9 Dzulhijjah itu dilaksanakan hanya sekali, yakni satu tahun sebelum haji Wada’, bukan dilakukan berulang-ulang.

PUASA ARAFAH, HARI ATAU TANGGAL?

Sejarah syariat puasa Arafah dapat dicermati hadits-hadits berikut ini:

Hadits Maimunah

عَنْ مَيْمُونَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ: (إِنَّ النَّاسَ شَكُّوا فِي صِيَامِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ) (فَقَالَ بَعْضُهُمْ: هُوَ صَائِمٌ, وَقَالَ بَعْضُهُمْ: لَيْسَ بِصَائِمٍ) (فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ أُمُّ الْفَضْلِ بِإِنَاءٍ فِيهِ لَبَنٌ) (وَهُوَ يَخْطُبُ النَّاسَ بِعَرَفَةَ عَلَى بَعِيرِهِ) (فَشَرِبَ مِنْهُ وَالنَّاسُ يَنْظُرُونَ إِلَيْهِ)

Maimunah (istri Nabi) ra. berkata: (Umat ragu perihal puasa Nabi di hari Arafah) (sebagian berpendapat beliau berpuasa, dan sebagian lainnya berpendapat tidak berpuasa) (Lalu aku menyuruh Umu Fadhal memberi beliau secangkir susu) (waktu itu Nabi sedang berkhotbah di Arafah di atas untanya) (Lalu beliau meminumnya dan umat menyaksikannya).

Hr. Bukhari: 1578, 1888, 5282; Muslim: 1123, 1124; Abu Dawud: 2441; Tirmidzi: 750; Ahmad: 26924.

Atsar Ibnu Umar

وَعَنْ أَبِي نَجِيحٍ يَسَارِ اَلْمَكِّي قَالَ: سُئِلَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَةَ، فَقَالَ: حَجَجْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَصُمْهُ، وَمَعَ أَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَلَمْ يَصُمْهُ، وَمَعَ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَلَمْ يَصُمْهُ، وَمَعَ عُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَلَمْ يَصُمْهُ

Abu Najih (Yasar) al-Makki berkata: Ibnu Umar ditanya tentang puasa Arafah ketika berada di Arafah. Ia menjawab: Aku haji bersama Nabi dan beliau tidak berpuasa. Aku haji bersama Abu Bakar dan ia tidak berpuasa. Aku haji bersama Umar dan ia tidak berpuasa. Aku juga haji bersama Utsman dan ia tidak berpuasa.

Hr. Ibnu Hibban: 3604; Tirmidzi: 751; Nasai (dalam Kubra): 2838; Ahmad: 5080.

Adapun syariat berpuasa Arafah bagi yang tidak berada di Arafah adalah sebagai berikut:

Hadits Abu Qatadah

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم: صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ, إِنِّي أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ, وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

Dinarasikan Abu Qatadah ra., Rasulullah saw. bersabda: Puasa Arafah aku berharap Allah mengampuni setahun sebelum dan setahun sesudahnya.

Hr. Muslim: 1162; Abu Dawud: 2425; Tirmidzi: 749; Ahmad: 22674.

Hadits Abu Qatadah

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ, مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً، وَصَوْمُ عَاشُورَاءَ, يُكَفِّرُ سَنَةً مَاضِيَةً

Dinarasikan Abu Qatadah ra., Rasulullah saw. bersabda: Puasa Arafah melebur dosa dua tahun, tahun kemarin dan tahun berikutnya, puasa Asyura menghapus setahun sebelumnya.

Hr. Ahmad: 22588.

Sesungguhnya akar perselisihan waktu pelaksanaan puasa Arafah bertumpu pada ‘hari saat wukuf di Arafah’ atau ‘tanggal wukuf di Arafah’.

Jika yang dimaksudkan adalah puasa ‘hari Arafah’, maka pada hari itu semua umat sedunia disyariatkan berpuasa. Pemahaman seperti ini tidak mungkin dapat dipraktekkan, karena pada hari yang sama suatu negara bisa menjalaninya, namun di belahan bumi lainnya tidak mungkin dapat menjalaninya.

Jika yang dimaksudkan ‘tanggal wukuf di Arafah’, maka bergantung setiap wilayah menentukan kapan jatuhnya tanggal tersebut.

Puasa hari yang kesembilan (tanggal 9) Dzulhijjah dan berhari raya Qurban pada hari yang kesepuluh (pada tanggal 10) Dzulhijjah sudah dilakukan oleh Rasulullah saw. sebelum disyariatknya ibadah haji. Awalnya tidak dikenal puasa Arafah, karena wukuf umat terdahulu berlokasi di Masy’aril Haram. Lalu di masa Rasulullah saw. pelaksanaan wukuf disempurnakan ke Arafah. Maka sejak itulah lahir syariat puasa Arafah. Karena syariat haji pada awalnya diturunkan Allah kepada nabi Ibrahim yang akhirnya diwarisi generasi ke genarasi sampai pada kedatangan Rasulullah saw.

Dengan demikian tidak heran ketika para sahabat diajak pergi haji, mereka mempertanyakan, apakah saat wukuf di Arafah juga masih disyariatkan berpuasa Arafah?

Tidak disangsikan dalam proses manasik haji Rasulullah saw. memulai Tarwiyah pada hari yang kedelapan (tanggal 8) dan wukuf di Arafah pada hari yang kesembilan (tanggal 9). Artinya, hari Tarwiyah itu jatuh pada tanggal 8 Dzulhijjah sedangkan wukufnya jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah.

Itulah sebabnya, wukuf tidak mungkin dilakukan sebelum meru’yat awal bulan Dzulhijjah, kapan jatuhnya tanggal 1 bulan Dzulhijjah. Jika sudah diketahui, maka barulah bisa ditentukan kapan hari Tarwiyah dan kapan pula hari wukuf di Arafah.

Catatan Akhir

Bagi yang memahami rangkaian ritual haji itu bergantung pada kalender, maka akan muncul konsistensi, puasa Arafah melakukan pada hari kesembilan (tanggal 9) Dzulhijjah, berhari raya Adha pada hari kesepuluh (tanggal 10) Dzulhijjah. Yakni bergantung pada penetapan setiap wilayah.

Itulah sebabnya ditemukan tujuh ayat Al-Qur’an (al-Baqarah: 189; Yunus: 5; al-Isra’: 12; al-An’am: 96; al-Rahman: 5-7; al-Anbiya’: 33; Yasin: 39-40 dan hadits Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Prediksikanlah hilal Sya’ban untuk memasuki awal Ramadhan”. Hr. Hakim: 1548; Tirmidzi: 687; Baihaqi: 7729; Thabrani dalam Ausath: 8242 yang memerintah umat meru’yat hilal ‘dengan media ilmu hisab’, agar mereka dapat mengetahui waktu-waktu manasik haji. Sebagaimana firman-Nya, “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan bagi ibadah haji”.*

Konsultasi Keluarga

Mandiri  di Hari Pertama Sekolah

 (Oleh : Dr. Mulyana AZ  S.Pd   M.Si - Ketua Majelis Pustaka PWM Jawa Timur, Ketua Litbang Mudipat, Dosen Psikologi UM Surabaya)

Assalamu’alaikum  Wr. Wb

Pengasuh konsultasi keluarga MATAN, rasanya hati ini bahagia walaupun terkadang juga ada perasaan cemas karena pada tahun pelajaran baru  ini anak pertama  saya telah mulai masuk sekolah di kelas I  SD. Perasaan bahagia ini disebabkan karena anak saya akhirnya dapat mulai belajar secara formal di sekolah yang diunggulkan di kota ini. Walaupun demikian hati ini terkadang juga merasa was-was apakah anak saya dapat bergaul dan mampu beraptasi dengan teman barunya. Bagaimana cara memotivasi dan memberikan pendampingan anak pada hari pertama ? Mohon pencerahannya.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Pertengahan Juli 2022 ini sebagian besar sekolah memulai tahun ajaran baru. Tahun pelajaran baru ini sepertinya juga  sudah ditunggu oleh sebagian besar siswa. Siswa sudah merasa rindu dengan sekolahnya, mereka sudah terlalu lama tidak bertemu dengan guru dan teman sekelasnya. Untuk siswa baru biasanya selalu dimulai dengan kegiatan Masa Orientasi Siswa  (MOS). MOS adalah sebuah kegiatan yang umum dilaksanakan oleh sekolah setiap awal tahun ajaran baru dengan tujuan menyambut kedatangan peserta didik baru. MOS merupakan waktu yang digunakan untuk mengenal lebih jauh tentang lingkungan sekolah.

MOS menjadi sesuatu yang penting terutama bagi siswa kelas I  SD,  karena siswa kelas I belum banyak mengenal lingkungan sekolah. Sebelum si anak akan mengikuti MOS di sekolah sebaiknya orang tua sudah banyak bercerita dan mengedukasi tentang kondisi sekolah  dan lingkungannya, tentang karakter guru, cara bergaul dan bermain dengan teman barunya. Berdasarkan pengamatan penulis tidak sedikit orang tua yang gagal memberikan kesan pertama sekolah yang menyenangkan pada anak mereka. Bukan berarti anak tidak menyukai sekolahnya, mungkin mereka hanya kurang dipersiapkan untuk menerima pengalaman baru iniUntuk itu ada beberapa tips untuk mempersiapkan si kecil dapat menjadi nyaman dan sukses hari pertama di sekolah.  Hari pertama di sekolah sesungguhnya merupakan momentum yang sangat penting bagi tumbuh kembang anak, sehingga anak memiliki minat belajar, kemandirian  dan memiliki keberanian untuk bergaul dengan teman barunya.

Beberapa tips tersebut diantaranya (a) Ciptakan sebuah kondisi bahwa sekolah itu menyenangkan sehingga anak dapat menjadi bahagia bersekolah di hari pertama (b) Upayakan pada hari pertama anak sudah dapat memiliki teman bermain (c) Berikan gambaran detil mengenai apa saja yang akan ia lakukan selama berada di sekolah seperti masuk kelas, harus berbaris, antri,  serta bertemu teman-teman dan guru, jika memungkinkan, ajak Si kecil melihat sekolah dan ruang kelasnya nanti sebelum hari H (d). Di sekolah nanti, anak-anak diharuskan untuk mentaati peraturan dan perintah guru maka sebaiknya si kecil dinasehati supaya belajar untuk patuh dengan peraturan yang ada di sekolah.

(e) Mulai awal si kecil perlu diajari tidak terlambat datang ke sekolah, si kecil juga perlu diajari tertib dan disiplin (f) Si kecil juga perlu diajari hormat kepada guru, sayang kepada teman dan tidak berbicara saat gurunya menerangkan materi pelajaran (g) Siapkan dan penuhi semua sarana prasarana untuk sekolah, mulai tas, buku tulis, alat tulis, seragam sekolah dan lain sebagainya (h) bawakan bekal makanan dan minuman supaya anak tidak jajan sembarangan (i) berilah motivasi dengan memberi cerita yang lucu dan menyenangkan saat berada di sekolah pada hari pertama. Pakar Psikologis berkebangsaan Amerika Serikat, Carl Rogers menyatakan untuk menyiapkan anak untuk mengikuti pembelajaran pada hari pertama adalah pembentukan jiwa mandiri.

Pentingnya melatih kemandirian anak hari pertama di sekolah agar anak terbiasa dapat menyelesaikan pekerjaan tanpa harus meminta bantuan orang lain. Carl Rogers  menyatakan bahwa  faktor penting dalam tumbuh kembang anak salah satunya adalah kemandirian. Anak yang memiliki kemandirian dalam kegiatan belajar terlihat aktif, memiliki ketekunan dan inisiatif dalam mengerjakan tugas-tugas, menguasai strategi-strategi dalam belajar, memiliki tanggung jawab, mampu mengatur perilaku dan kognisinya serta memiliki kayakinan diri.

Kemandirian merupakan kemampuan untuk mengarahkan dan mengendalikan diri sendiri dalam berpikir dan bertindak, serta tidak merasa bergantung pada orang lain secara emosional, dalam arti anak yang mandiri tidak akan tergantung pada bantuan orang lain. Secara praktis kemandirian adalah kemampuan anak dalam berpikir dan melakukan sesuatu oleh diri mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhannya sehingga mereka tidak lagi bergantung pada orang lain namun dapat menjadi individu yang dapat berdiri sendiri. Mari kita antar anak kita sampai di halaman sekolah.*