Daftar Isi

Fokus

Fragmentasi Meluas, Kanibalisme Parpol Islam  Memanas

    Pemilihan Umum masih akan berlangsung  pada akhir Februari 2024 mendatang. Namun, suhu politik di tanah air sudah mulai memanas. Utamanya berkaitan wacana Pemilihan Presiden yang menyertai pemilihan anggota legislatif dan DPD. Berbagai jajak pendapat dan survai dilakukan beberapa lembaga dengan hasil yang cukup variatif.

    Yang luput perhatian adalah pertanyaan bagaimana nasib partai-partai politik Islam yang dalam lima kali Pemilu pasca Reformasi  tak beranjak dari perolehan papan tengah rerata 4 hingga 7 persen. Jika diagregasikan perolehan partai-partai itu tak lebih dari 30 persen. Sudah demikian belakangan muncul partai-partai Islam baru yang diperkirakan akan saling “memangsa” pemilih partai Islam lama. Berebut kue yang relatif kecil ?

   

      Menurut Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Prof Abdul Mu’ti, keberadaan dan kemunculan partai politik Islam baru memang dijamin oleh UUD 1945 dan UU Partai Politik sebagai bagian dari kebebasan menyatakan pendapat dan berkumpul.

      “Kalau soal peluang memang tergantung pada apa yang terjadi di lapangan. Secara teoritik kalau jumlah partai semakin banyak, maka sebaran pemilih akan semakin terdistribusi secara luas. Dan akhirnya akan berpengaruh pada perolehan suara bagi partai politik yang sudah beberapa ikut Pemilu maupun yang baru berdiri sekarang ini,” jelasnya usai  acara Halal Bi Halal PWM Jatim, Selasa (10/5/2022).

Opini

Ideologi Terbuka: Pengaruhnya Bagi Organisasi dan AUM

Achmad Jainuri  (Guru Besar Emiritus Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA); Wakil Ketua Majlis Diktilitbang PP Muhammadiyah; Wakil Ketua PWM Jawa Timur)

    Keterbukaan adalah salah satu karakteristik modern. Ciri kemoderenan lain yang seringkali dinisbatkan pada Muhammadiyah adalah: adaptif, pluralis, menerima perubahan, mobilitas tinggi, literasi, rasional, punctuality, toleran, dan sebagainya. Keterbukaan mendorong munculnya sikap adaptif, menghasilkan masyarakat pluralis, dan memungkinkan terjadinya perubahan. Dalam perkembangan kontemporer, perubahan orientasi ideologi keagamaan di Muhammadiyah memunculkan varian baru seperti MUNU (Muhammadiyah NU), MUSA (Muhammadiyah Salafi), MUFPI (Muhammadiyah FPI), MUMI (Muhammadiyah Milenial), dan sebagainya. Karenanya, Muhammadiyah tidak lagi dikelompokkan sebagai representasi orientasi ideologi keagamaan tunggal, tetapi kumpulan dari berbagai kecenderungan dan paham yang berbeda.

Laporan Khusus

Muktamar ke- 48, Antara Luring dan Daring

     Sampai saat ini, metode pelaksanaan Muktamar ke- 48 Muhammadiyah dan Aisyiyah yang bakal diselenggarakan di Surakarta pada November 2022 belum ditentukan. Melihat situasi pandemi awal tahun 2022 yang melandai, ada beberapa pihak mendorong untuk menggelar Muktamar secara luring. Mereka juga berharap para penggembira diperbolehkan untuk hadir ke venue secara langsung. Namun, seusai lebaran tahun ini, sejumlah pakar memprediksi penyebaran covid-19 kembali meningkat. Maka dari itu, pihak panitia tidak ingin tergesa-gesa mengambil keputusan. Mereka akan melihat terlebih dahulu, bagaimana kondisi perkembangan pandemi pasca Hari Raya Idul Fitri.    

     Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah  Prof Abdul Mu’ti menyampaikan, PP Muhammadiyah dalam waktu dekat akan mengadakan sidang Tanwir yang membahas tentang pelaksanaan Muktamar. Menurut Mu’ti, ada kemungkinan, seluruh anggota Muktamar diperbolehkan untuk berangkat ke venue. Tetapi untuk penggembira, belum ada pembicaraan.

     “Kita tunggu setelah mudik akbar ini, kira-kira covidnya akan seperti apa. Kalau covidnya turun, maka ada kemungkinan PP akan menyelenggarakan Tanwir. Pada sidang tanwir itu nanti agendanya tunggal membahas pelaksanaan Muktamar, bukan waktunya. Untuk itu, mari kita tunggu saja. Pelaksanaannya akan diputuskan dalam rapat pleno PP Muhammadiyah,” katanya.

     Ketua Panitia Pemilihan Muktamar Muhammadiyah Ke-48 Dahlan Rais mengatakan, pelaksanaan pemilihan Muktamar di Surakarta nanti akan sepenuhnya memanfaatkan IT. Dia juga menegaskan, pihaknya sudah menyiapkan segala kemungkinan, jika terjadi adanya perubahan metode yang digunakan dalam pemilihan Muktamar ke- 48.

     “Insya Allah panitia pemilihan siap untuk melaksanakan, apakah itu secara murni luring, daring, ataupun blended yang merupakan campuran antara keduanya. Semua telah disiapkan dengan baik. Bahkan jika nantinya Muktamar akan dilaksanakan secara full offline, kami pun sudah mempersiapkan secara teknis. Luring pun kita juga akan memanfaatkan IT. Apapun yang dipilih, kami telah mencoba sejumlah alternatif yang itu kita sudah disiapkan semuanya,” tegasnya.

     Sementara itu Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur KH Dr M. Saad Ibrahim menyampaikan, pihaknya mempercayakan sepenuhnya pelaksanaan Muktamar kepada PP Muhammadiyah. PWM Jatim mengikuti mekanisme yang ditentukan panitia, dari mulai pendaftaran, kepesertaan, hingga proses pemilihan.

     “Ini kita juga menunggu untuk pelaksanaan Muktamar tersebut apakah seperti yang telah diputuskan melalui Tanwir atau ada perubahan dengan mengadakan Tanwir lagi. Itu akan menentukan persiapan kita. Kalau dulu diputuskan yang akan mengikuti Muktamar secara langsung itu adalah PWM dan ketua-ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM),” terangnya.

     Dia memaklumi jika banyak warga Muhammadiyah yang mengharapkan Muktamar ke- 48 bisa digelar secara luring. Serta para penggembira juga diperbolehkan untuk datang ke lokasi acara. Sebab, mereka ingin bersilaturrahim dengan sesama warga Persyarikatan di Indonesia, setelah lebih dari dua tahun tertunda.

Hadis

Posisi Kaki Saat Berdiri Salat

Dr.H. Achmad Zuhdi Dh, M.Fil I (Dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya)

عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي وَكَانَ أَحَدُنَا يُلْزِقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَقَدَمَهُ بِقَدَمِهِ (رواه البخارى)

Dari Anas bin Malik, Nabi saw. bersabda: “Luruskan saf kalian karena aku bisa melihat kalian dari arah punggungku”. Anas berkata: “Maka salah seorang dari kami menempelkan pundaknya ke pundak temannya, dan menempelkan telapak kakinya ke telapak kaki temannya” (HR. al-Bukhari No. 725).

Status Hadis

            Hadis tersebut dinilai sahih oleh al-Bukhari dan dimasukkan ke dalam kitabnya Sahih al-Bukhari No. 725. Beberapa ulama lain yang juga meriwayatkan hadis tersebut adalah Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf No. 3524, al-Mundziri dalam al-Targhib Wa al-Tarhib No. 710, Ibn al-Atsir dalam Jami’ al-Ushul No. 3864, al-Nawawi dalam Khulashat al-Ahkam No. 2466, dan al-Asqalani dalam al-Talhish al-Habir No. 60. Syekh al-Albani juga menilai hadis tersebut sahih (al-Albani, Sahih al-Targhib Wa al-Tarhib, I/120).

Kandungan Hadis

            Hadis tersebut menerangkan tentang perintah Nabi kepada sahabatnya yang sedang bersiap-siap mengikuti salat berjamaah untuk meluruskan saf. Saat itu ada salah seorang sahabat yang menempelkan pundaknya ke pundak temannya dan menempelkan telapak kaki ke telapak kaki temannya. Hadis tersebut kemudian dijadikan dasar untuk menetapkan hukum bagaimana cara mengatur saf dan bagaimana cara meletakkan kaki saat berdiri salat, baik saat salat sendirian maupun salat berjamaah.

Konsultasi Keluarga

Antara Gosip dan Sombong

Dr. Mulyana AZ  S.Pd   M.Si (Ketua Majelis Pustaka PWM Jawa Timur, Ketua Litbang Mudipat)

Assalamu’alaikum  Wr. Wb

Pengasuh konsultasi keluarga MATAN, terkadang saya merasa sedih dalam menjalani kehidupan dan pergaulan  di kampung, jika tidak menyempatkan bergaul hanya sekedar untuk ngobrol dengan tetangga, maka sudah dikatakan sombong, tetapi jika berkawan sedikit akrab saja dengan mereka maka sudah menjadi gosip. Bagaimana caranya  mengatasi permasalahan tersebut, mohon pencerahannya.  (Agus Hendarso S.Ag-Ponorogo)

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Memikmati kehidupan di perkotaan atau menyukuri kehidupan di perkampungan merupakan keinginan sebagian besar orang. Walaupun demikian dalam kenyataannya,  menjalani kehidupan dan pergaulan di perkotaan maupun di pedesaan tidak bisa lepas dengan gosip maupun tuduhan sebagai orang yang sombong.

Kehidupan di kota besar memang menjanjikan banyak hal, kehidupan di pusat kota identik dengan gaya hidup modern dan serba cepat. Mencari pekerjaan lebih mudah, karena di kota banyak perkantoran, ritel, pabrik, mall, yang semuanya membutuhkan tenaga kerja. Menurut studi yang dilakukan oleh Annuals of Emergency Medicine, tinggal di perkotaan cenderung lebih aman dari segi medis. Namun, hiruk-pikuk kota besar juga tak jarang membuat orang sedih dan mudah stres. Oleh karena itu, ada juga orang yang memilih untuk mencari ketenangan batin dalam mengarungi kehidupan di kampung atau pedesaan. (Konsultasi lengkap bisa Anda baca di edisi cetak)