Daftar Isi

Fokus

KEMERDEKAAN DAN KEADILAN SOSIAL TERGANJAL  PEMILIK MODAL

     Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia. Masihkah ini dijadikan isu utama dalam setiap pengambilan kebijakan negara dan keprihatinan berbagai elemen masyarakat ? Di tengah Peringatan 77 Tahun Kemerdekaan Indonesia tampaknya menarik direnungkan. Tema yang dicanangkan, “Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Cepat.” Tentunya ini  bisa dimaknai seruan agar kita bersemangat dapat tegak kembali berkarya setelah dua tahun dihajar pandemi.

     Dalam sudut pandang yang lebih luas  tema itu juga bisa dianalisis, apa yang mau bangkit ? Bacaan banyak pihak atas realitas sosial menunjukkan, alih-alih sila kelima Pancasila ini menjadi acuan sekaligus tujuan hidup berbangsa dan bernegara, yang muncul justru sebaliknya proses ketidakadilan yang makin kentara di bidang hukum, politik, dan ekonomi.

     Yang paling mencolok sudah tentu praktik penegakan hukum yang tumpul ke atas tajam ke bawah. Komodifikasi pasal-pasal dalam  putusan pengadilan  bukan rahasia lagi. Di bidang politik yang berbiaya tinggi makin menguatkan dinasti dan elite terbatas menguasai simpul-simpul dan akses sumber daya kekuasaan kunci. Sementara ranah ekonomi telah dikendalikan segelintir pengusaha yang disebut oligarki. Masihkah ada harapan masyarakat ini meluruskan kiblat bangsa ?

     Prof Ahmad Syafi’i Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah (1998-2005) yang wafat pada 27 Mei 2022 lalu bahkan sering menyebut sila Keadilan Sosial sebagai  “yatim piatu.” Sila yang tidak banyak dipedulikan, tapi sering diucapkan. Prof Amin Abdullah dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang dekat dengan almarhum menyebut, kritik Buya Syafi’i itu sebagai rasa keprihatinan mendalam yang lahir dari rasa kemanusiaan beliau yang sangat tinggi. Buya Syafi’i juga disebutnya melakukan kritik kepada penguasa bertujuan untuk meluruskan tujuan berbangsa dan bernegara.

Laporan Khusus

Dampak Pembatasan Usia dan Kuota Haji

     Setelah ditutup selama dua tahun akibat pandemi, kini penyelenggaraan ibadah haji kembali dibuka oleh pemerintah Arab Saudi. Namun, karena penyebaran covid-19 belum sepenuhnya usai, Saudi memberlakukan aturan batas usia Calon Jamaah Haji (CJH) maksimal 65 tahun.  Peraturan ini tentu berdampak pada CJH Indonesia yang sebagian besar berusia lanjut. Selain itu Saudi juga mengurangi jumlah kuota jamaah haji Indonesia juga lebih dari setengah. Dari 221.000 orang pada tahun 2019, sekarang menjadi 100.051 orang.

     Pimpinan KBIH Muhammadiyah Surabaya, Drs H Imam Subari menilai, aturan batasan usia bagi calon jamaah haji tahun ini memberatkan. Di samping membuat kecewa ribuan jamaah haji yang batal berangkat, juga akan menyebabkan penumpukan CJH lansia pada tahun berikutnya.

     "Efeknya, di musim haji tahun berikutnya mayoritas calon jamaah haji yang berangkat tua-tua semua. Di atas 65 tahun. Banyak di antara mereka yang ringkih dan mungkin punya masalah kesehatan sehingga kerjaan petugas kita nantinya akan lebih berat untuk mendampingi para jamaah," katanya.

     Dia menjelaskan, saat ini ada 196 CJH di KBIH Muhammadiyah Surabaya yang sudah melunasi pembayaran biaya ibadah haji tahun 2020. Sedangkan yang bisa berangkat hanya 93 jamaah. Sisanya, terbentur dengan aturan batas usia. Umumnya jamaah KBIH Muhammadiyah Surabaya adalah lansia, bahkan banyak di antaranya yang sudah antre selama 11 tahun, ditambah 2 tahun pandemi menjadi 13 tahun.

     "Insya Allah jamaah kita besok (6/6/22) malam jam 19.00 akan berangkat langsung terbang ke Madinah di Bandara Amir Mahmud bin Abdul Aziz. KBIH Muhammadiyah Surabaya ini masuk di kloter 5 gelombang 1. Gabung sama calon jamaah haji dari Lamongan," beber dia.

     Karena aturan ini, ada beberapa jamaah yang membatalkan niatnya berangkat ke tanah suci kemudian mengambil uang pelunasannya. Mengingat banyaknya calon jamaah haji lansia yang tidak bisa berangkat tahun ini, dia mengimbau kepada jamaahnya untuk tidak menarik kembali uangnya.

     "Tapi yang melakukan itu ya hanya satu dua orang, ada juga 5 jamaah yang meninggal tetapi digantikan (badal haji) anaknya untuk tahun depan. Kalau tahun sekarang anaknya tidak bisa ikut. Memang banyak yang tanya badal haji: Ustadz kalau badal haji berapa? Syaratnya apa? Itu banyak, mungkin lebih dari 10 orang. Tapi saya jawab: Di Muhammadiyah itu tidak mengenal badal haji orang lain. Kalau ada badal haji itu yang membadali itu keluarga sendiri dan itu sudah pernah haji. Kalau orang lain itu tidak ada tuntunannya di tarjih," tandasnya.

Hadis

Tanda Haji Mabrur

Oleh: Achmad Zuhdi Dh

أنَّ رسول اللهِ صلى الله عليه وسلم قال... الحَجُّ المَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الجَنَّةَ
(متفقٌ عليه عن أبى هريرة )

Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “…Haji yang mabrur itu tiada balasannya kecuali surga” (HR. al-Bukhari No. 1773 dan Muslim No. 3355).

Status Hadis

            Hadis tersebut dinilai sahih oleh al-Bukhari dalam Sahih al-Bukhari No. 1773 dan oleh Muslim dalam Sahih Muslim No. 3355. Hadis tersebut juga diriwayatkan oleh beberapa ulama Hadis yang lain, di antaranya al-Tirmidzi dalam Sunan al-Tirmidzi No. 933, al-Nasai dalam Sunan al-Nasai No. 2629, Ibn Majah dalam Sunan Ibn Majah No. 2888, Ahmad dalam Musnad Ahmad No. 7354, Malik dalam Muwatta Malik No. 1257, Ibn Abi Syaibah dalam Mushannaf Ibn Abi Syaibah No. 12639, al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir No. 880, Ibn Hibban dalam Sahih Ibn Hibban No. 3696, Ibn Khuzaimah dalam Sahih Ibn Khuzaimah No. 2513, dan al-Bayhaqi dalam Sunan al-Bayhaqi No. 1344. Al-Albani juga menilai hadis tersebut sahih (al-Albani, al-Silsilah al-Sahihah, III/274).

 

Kandungan Hadis

            Hadis tersebut menerangkan tentang keutamaan haji mabrur. Dalam versi yang agak lengkap diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda bahwasanya umrah ke umrah berikutnya menjadi penghapus dosa antara keduanya dan haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surga. Al-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ungkapan “'tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga” adalah bahwasanya orang yang berhaji mabrur itu tidak cukup jika hanya dihapuskan dari sebagian dosanya, tetapi ia memang pantas masuk ke dalam surga"(al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, IX/119).

             Hadis yang sama dalam redaksi lain ada tambahan tentang tanda-tanda kemabruran haji. Nabi saw. ditanya:

وَمَا بِرُّهُ ؟ قَالَ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلَامِ

Apa tanda-tanda kemabrurannya (haji)? Nabi menjawab: “Suka memberi makan (kaum dhu’afa’) dan santun bicaranya”. Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad, al-Thabrani dengan sanad yang hasan, juga oleh Ibn Khuzaimah, al-Hakim, dan al-Bayhaqi dengan sanad yang sahih. Dalam Riwayat Ahmad dan al-Bayhaqi disebutkan “suka memberi makan dan suka memberi salam” (al-Mundziri, al-Targhib Wa al-Tarhib, II/106).

 

Pengertian Haji Mabrur

            Ibn Mandzur, dalam kitabnya (Lisan al- ‘Arab, IV/51), menjelaskan bahwa kata mabrur itu   mengandung dua arti:

Pertama, mabrur berarti baik, suci dan bersih. Dalam pengertian ini, haji mabrur adalah haji yang dilaksanakan dengan baik, tidak diperbuat di dalamnya hal-hal yang dilarang seperti berkata kotor, berbuat fasik dan menyakiti atau mengganggu orang lain termasuk menyuap orang untuk kemudahan amalnya sementara orang lain mendapatkan kesulitan karenanya. Selain itu, bekal yang dibawa untuk berhaji adalah bekal yang halal dan bersih (Ibn Abd al-Barr, al-Tamhid, XXII/39; Ibn Bathal, Syarh Shahih al-Bukhari, IV/435).

Kedua, mabrur berarti maqbul atau diterima dan diridhai oleh Allah swt. Dalam hal ini, haji mabrur adalah haji yang tata caranya dilakukan dengan baik dan benar sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya dan memperhatikan syarat-syarat dan rukunnya serta hal-hal yang wajib diperhatikan dalam berhaji (al-Nawawi, Syarh Shahih Muslim, V/12; al-Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwadzi, III/586).

      Dari dua keterangan tersebut dapat diambil pengertian bahwa yang dimaksud dengan haji mabrur adalah haji yang diterima dan diridhai oleh Allah swt, karena ibadah hajinya telah dilakukan dengan baik dan benar serta dengan bekal yang halal, suci dan bersih.

Konsultasi Agama

Meletakkan Sandal Jelang  Salat

Oleh : Zainuddin MZ ( Direktur Markaz Turats Nabawi Pusat Studi Hadis )

Pendahuluan

Saya pernah mendapatkan kiriman video dari teman  yang menyalahkan orang-orang salat di lapangan pada hari raya Fitri atau Adha dengan meletakkan sandal di hadapan mereka.

Hal itu dianggap tidak benar, karena arah depan sewaktu salat adalah arah Tuhan. Orang yang meludah saja dibimbing untuk tidak mengarah kiblatnya dan tidak ke sisi kanan, lalu bagaimana bisa dibenarkan menaruh sandal di arah kiblat?!

SALAT DENGAN BERALAS KAKI

Hadis-hadis yang menjelaskan bolehnya seseorang salat dengan beralas kaki sangat banyak. Wujudnya bisa berupa sandal, stewel (sepatu boot) atau kaos kaki. Hadis-hadis terkait dengan kebolehan seseorang boleh mengenakan sandal diriwayatkan (1) Syadad bin Aus, yang dikeluarkan Hakim: 956; Ibnu Hibban: 2186; Abu Dawud: 652; Baihaqi: 4056; (2) Amr bin Huraits, yang dikeluarkan Nasai dalam Kubra: 9804; Baihaqi: 3991; Abdurrazaq: 1505; Abu Ya’la: 1466; (3) Abdullah bin Mas’ud, yang dikeluarkan Ibnu Majah: 1039; (4) Abu Hurairah, yang dikeluarkan Ahmad: 9904; (5) Abu Maslamah, yang dikeluarkan Bukhari: 379; Muslim: 555; Tirmidzi: 400; Nasai: 775; (6) Ibnu Abi Aus, yang dikeluarkan Ibnu Majah: 1037; Ahmad: 16222; Ibnu Abi Syaibah: 8492; (7) Abdullah bin Amr, yang dikeluarkan Nasai: 1361; Ibnu Majah: 931; Ahmad: 6627, 6928; (8) Abdullah bin Saib yang dikeluarkan Muslim: 455; Nasai: 1007; Ahmad: 15434.

Misalnya hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Saib: (Nabi saw. salat Subuh bersama kami di Mekah) (di hari penaklukan Mekah), dan beliau salat di depan Ka’bah. Lalu beliau melepas sandalnya dan meletakkan pada sisi kirinya, dan beliau membaca surat al-Mukminun. Ketika menyebut nama Musa atau Isa, tiba-tiba beliau batuk lalu ruku’. Hr. Muslim: 455; Nasai: 1007; Ahmad: 15434.

Hadis-hadis terkait dengan kebolehan seseorang boleh mengenakan stewel diriwayatkan (1) Abdullah bin Mas’ud, yang dikeluarkan Ibnu Majah: 1039; (2) Syadad bin Aus, yang dikeluarkan Hakim: 956; Ibnu Hibban: 2186; Abu Dawud: 652; Baihaqi: 4056; (3) Ali bin Abi Thalib, yang dikeluarkan Muslim: 276; Nasai: 128; Ibnu Majah: 552; Ahmad: 1126; (4) Anas bin Malik, yang dikeluarkan Hakim: 643; Baihaqi: 1242; Daraqutni: 1/203, hadis: 2; (5) Zirr bin Hubais, yang dikeluarkan Tirmidzi: 3535; Nasai: 126, 127, 158; Ibnu Majah: 478; Ahmad: 18118, 18120; (6) Mughirah bin Syu’bah, yang dikeluarkan Bukhari: 180, 356, 381, 2761, 4159, 5463; Muslim: 274; Ibnu Khuzaimah: 1645; Abu Dawud: 149, 151, 161; Nasai: 79, 82, 108, 109, 125; Tirmidzi: 98, 1768; Ahmad: 18159, 18166, 18189, 18195, 18196, 18200, 18219, 18253, 18265; (7) Syahr bin Hausab, yang dikeluarkan Bukhari: 380; Muslim: 272; Abu Dawud: 154; Tirmidzi: 93, 94; Nasai: 774; (8) Nafi’, yang dikeluarkan Ibnu Majah: 546; Malik: 72; Ahmad: 88, 237.

Misalnya, hadis Abdullah bin Mas’ud: Kami menyaksikan Nabi saw. salat dengan bersandal dan berstewel. Hr. Ibnu Majah: 1039.

Analisa

Pemakaian alas kaki apakah berupa stewel atau sandal sewaktu salat tentunya bukan hanya untuk orang yang salat sendirian, melainkan juga untuk salat berjamaah.

Seperti itulah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. bersama sahabat baik ketika bermukim maupun di perjalanan, kecuali jika ada udzur karena hujan dan lainnya.

Tidak disangsikan jika seorang imam atau makmum salat dengan mengenakan alas kaki, tentu alas kakinya akan berada di arah kiblat orang yang berdiri di belakangnya. Artinya orang yang dibelakangnya pasti dapat menyaksikan sandal atau stewel yang dipakai teman depannya.

Begitu pula saat seorang makmum meletakkan alas kaki di sisi kanan atau sisi kirinya.

Besar dugaan munculnya fatwa menyalahkan orang-orang yang meletakkan sandal di arah depannya sewaktu hari raya Fitri dan Adha dilandasi dengan hadis berikut ini.

Hadis utama terkait dengan pokok permasalahan teguran salafi adalah sebagai berikut:

Hadis Abu Hurairah

وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَخَلَعَ نَعْلَيْهِ فلَا يُؤْذِ بِهِمَا أَحَدًا) (لَا يَضَعْ نَعْلَيْهِ عَنْ يَمِينِهِ وَلَا عَنْ يَسَارِهِ فَتَكُونَ عَنْ يَمِينِ غَيْرِهِ، إِلَّا أَنْ لَا يَكُونَ عَنْ يَسَارِهِ أَحَدٌ، وَلْيَضَعْهُمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ) (أَوْ لِيُصَلِّ فِيهِمَا)

Dinarasikan Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda: (Jika salah seorang di antara kalian melepas sandalnya agar tidak mengganggu temannya) (supaya tidak meletakkan sisi kanan atau sisi kirinya sehingga posisinya di sisi kanan temannya, kecuali jika sisi kirinya tak ada seseorang. Untuk itu supaya meletakkannya di antara kakinya) (atau mengenakan keduanya). Hr. Hakim: 952, 954; Ibnu Khuzaimah: 1016; Ibnu Hibban: 2182, 2188; Abu Dawud: 654, 655.

Jika hadis di atas dicermati secara seksama, alasan seorang tidak meletakkan sandal di sisi kiri atau kanan agar tidak mengganggu atau menyakiti temannya. Sama sekali tidak ada kaitan dengan keburukan etika seperti orang meludah. Maka keduanya tidak dapat dianalogikan.

Dalam hadis tersebut Rasulullah saw. memberi solusi cerdas yakni agar meletakkan sandalnya di antara kedua kakinya. Agar difahami dalam hadis itu tidak ada sajadah, sehingga walaupun diletakkan diantara kedua kakinya tetap berada di arah depan teman yang berada di belakangnya, sedemikian pula saat diletakkan disisi kanan atau kirinya dalam statusnya sebagai imam, tentu sandal itu berada di arah depan jamaah yang berada di belakangnya.

Apalagi ditemukan anjuran Nabi agar mengenakan alas kaki sewaktu salat untuk membedakan dengan salat orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Kemudian ditemukan hadis baik Nabi dan para sahabat di tengah-tengah salat meletakkan sandal mereka.

Abu Sa’id al-Khudri ra. berkata: (Suatu hari kami salat bersama Nabi, tiba-tiba beliau melepas sandal dan meletakkan di sisi kirinya. Ketika umat menyaksikan, mereka ikut melepas sandal) (Seusai salat, Nabi bersabda: Kenapa kalian melepas sandal? Mereka menjawab: Karena kami melihat tuan melakukannya) (Lalu Nabi bersabda: Sesungguhnya tidaklah aku melepas sandal kecuali karena Jibril) (datang dan mengabari aku padanya ada kotoran) (maka aku melepasnya. Jika salah seorang kalian menuju masjid, maka supaya memperhatikan sandalnya. Jika menyaksikan padanya ada kotoran, supaya mengusapkan ke bumi) (lalu salat dengannya).

Hr. Ibnu Hibban: 2185; Abu Dawud: 650, 651; Ahmad: 11169, 11895.

Hadis di atas jelas dalam kontek salat berjamaah. Awalnya baik Nabi sebagai imam dan para makmum salat dengan mengenakan sandal.

Di tengah salat para makmum menyaksikan Nabi melepas sandal, maka merekapun mengikutinya dan berasumsi perilaku Nabi tersebut bagian dari tasyri’ yang seharusnya diikuti.

Dalam kasus seperti itu, jangan dikira Rasulullah walaupun kapasitasnya sebagai imam tidak mengetahuinya. Beliau mempunyai mukjizat yang dapat mengetahui apa saja yang berada di belakangnya sebagaimana apa saja yang ada di hadapannya.

Misalnya, Nabi mengetahui jamaah yang tidak meluruskan shaf, jamaah yang mendahui gerakan angkat kepalanya sewaktu duduk antara dua sujud, gerakan ruku’ orang masbuk yang berjalan menuju shaf, sampai pada bacaan iftitah yang belum pernah diajarkan oleh Rasulullah.

Itulah sebabnya seusai salat Nabi menjelaskan kenapa beliau melepas sandalnya. Yakni lantaran dapat teguran Jibril pada sandalnhya ada najis. Jika tidak, tentu Nabi tidak akan melepas sandalnya, karena kesucian bagian dari syarat sahnya salat.

Solusi Nabi saw. jika tidak berkenan mengenakan sandal (alas kaki) supaya diletakkan di sisi kanan atau kiri adalah tidak mengganggu teman atau menyakitinya, maka beliau membimbing umat agar meletakkan sandal di antara kakinya, penyebabnya muncul dalam teks hadis, bukan hasiul pemikiran seperti yang berfatwa melarang meletakkan sandal di hadapan orang salat.

Jika seorang salat dengan mengenakan alas kaki, pasti sandal dan stewelnya berada di arah kiblat teman yang berada di belakangnya.

Begitu pula walaupun diletakkan di sisi kanan atau kiri atau di antara kedua kakinya. Supaya difahami, munculnya hadis ini justru pada zaman Nabi yang belum lazim menggunakan sajadah, maka sandal itu juga menjadi tempat arah kiblat orang yang dibelakangnya.

Dengan demikian tidak mungkin dianalogikan dengan keburukan etika meludah ke arah depan atau sisi kanannya.

Catatan: Salat menggunakan alas kaki di masjid seharusnya difahami secara kontekstual, karena kondisi masjid pada zaman Nabi berbeda dengan sekarang. Maka hadis-hadis seperti ini bersifat temporer.

Hendaklah ektra hati-hati memahami hadis fi’li, karena hal itu merupakan respon sahabat terhadap unggah ungguh Nabi, walaupan diyakini mereka mentranfer ilmunya dengan penuh amanat, namun kadang terjadi salah persepsi.

Contoh di atas menjadi bukti kesalahfahaman sahabat dalam merespon kenapa Nabi saw. melepas sandalnya. Itu bukan tasyri’iyah, melainkan adanya teguran Jibril karena pada sandalnya ada najis. Pada prinsipnya tidak disalahkan orang salat dengan mengenakan alas kaki.

Catatan Akhir

Betapa banyak ilmu yang harus di-update dalam cara memahami hadis. Misalnya, pemahaman hadis periwayatan Amir bin Rabiah, bahwa ia tidak pernah menyaksikan Nabi salat fardhu di kendaraan, lalu disimpulkan tidak boleh salat wajib di kendaraan. Pernyataan Aisyah, bahwa ia tidak pernah menyaksikan Nabi kencing dengan berdiri, lalu disimpulkan tidak boleh kencing dengan berdiri; dan pernyataannya seakan Nabi salat dua rakaat fajar tanpa surat al-Fatihah, lalu dipahami tidak perlu membaca al-Fatihah dan hadis-hadis fi’li lainnya. Jika seseorang diperbolehkan salat dengan sandal atau stewel, bukankah alas kakinya menjadi arah kiblat bagi orang yang berdiri pada saf belakangnya, walaupun ia lepas dan ia letakkan di antara kedua kakinya?

Konsultasi Keluarga

Plus-Minus Kelas Terpisah

Oleh : Dr. Mulyana AZ  S.Pd   M.Si ( Ketua Litbang Mudipat. Dosen Psikologi UM Surabaya )

Assalamu’alaikum  wr. wb

Pengasuh konsultasi keluarga MATAN, seharusnya saat ini  saya berbahagia karena putri bungsu saya sudah diterima di SMA swasta terbaik di kota S. Kebahagian ini sekarang berangsur-angsur terasa tergerus, karena anak saya menjadi lesu dan kurang bersemangat untuk sekolah. Kelesuan  tersebut karena sekolah menerapkan sistem terpisah, sementara anak saya tipe orang yang suka bergaul termasuk dengan semua orang termasuk lawan jenis. Apa sebenarnya kelebihan dan kekurangan sistem terpisah dalam pembelajaran di kelas, mohon pencerahannya.

 Novi Hilda Fajar Prasetyaningtyas ( Jember )

 

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Corak dan model pengelolaan sekolah di berbagai belahan dunia itu beraneka ragam. Jepang sebagai negara besar dan berteknologi tinggi, ternyata juga memiliki sekolah menengah atas yang siswanya berjenis laki-laki saja dalam kelasnya. Bangladesh juga ada  universitas khusus wanita. Robin Gilbert pakar pendidikan Amerika Serikat menerapkan model kelas  terpisah laki-laki dan perempuan dalam pembelajarannya. Ia menyatakan, model pembelajaran dengan memisah siswa laki-laki dan perempuan tersebut bertujuan untuk mengoptimalkan daya serap siswa.  Di Indonesia pembelajaran dengan sistem terpisah sebenarnya juga sudah lama diterapkan, terutama pembelajaran di Pondok Pesantren. Dalam perjalanannya sistem kelas terpisah ini juga tidak sedikit yang diadopsi sekolah umum.

William A Jeager menyatakan bahwa sistem terpisah merupakan upaya pengelompokan peserta didik laki-laki dan perempuan dalam kelas yang berbeda, walaupun demikian saat jam istirahat mereka dapat bergaul dan bermain bersama. Beberapa pakar pendidikan yang lain menyatakan bahwa penerapan sistem terpisah adalah menempatkan siswa laki-laki dan siswa perempuan secara terpisah kelas dalam belajarnya, walaupun demikian keberadaan mereka masih tetap dalam satu lingkungan sekolah yang sama.

Strategi atau model pemisahan siswa laki-laki dan perempuan (homogen) dalam satu kelas sudah sejak lama memunculkan beda pendapat. Mereka yang setuju dengan sistem pemisahan beragumentasi agar siswa dapat fokus pada pelajaran, dapat meningkatkan kosentrasi dan motivasi dalam belajar  dan tidak terbawa dengan nuansa romantis bersama teman satu kelas. Mereka juga beralasan agar pergaulan dengan lawan jenis dapat diminimalisir. Psikolog Universitas Indonesia, Edward juga menyatakan bahwa sekolah homogen itu sebenarnya tak benar-benar homogen karena tetap ada interaksi cowok-cewek di luar sekolah.

 Jika kita cermati, yang sebenarnya sekolah homogen itu lebih ke arah sekolah dengan keharusan tinggal di asrama (boarding School) yang benar-benar mencoba untuk mengurangi interaksi dengan lawan jenis. Untuk memperkuat sistem pemisahan siswa laki-laki dan perempuan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Utara bahkan mengesahkan Qanun (Peraturan Daerah) tentang ketertiban dan kemaslakatan umat. Qanun ini melarang siswa laki-laki dan perempuan berada dalam 1 ruangan kelas mulai tingkat SMP hingga Perguruan Tinggi.

Sementara itu masyarakat yang tidak setuju dengan sistem pemisahan menyatakan bahwa sistem pemisahan tidak baik terhadap perkembangan psikologis anak di masa mendatang. Ternyata pendapat ini juga didukung hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti di Pennsylvania State University yang menyatakan bahwa  memisahkan dua jenis kelamin saat belajar di dalam kelas bisa berdampak kurang baik terutama dalam hal pengembangan diri anak. Dalam penelitian itu terungkap bahwa anak yang belajar pada suatu sekolah yang kelasnya hanya ditempati siswa laki-laki saja atau perempuan saja, maka siswa tersebut  akan sulit bergaul utamanya dengan lawan jenisnya. 

Lynn Liben, Profesor Psikologi dan Pendidikan di Penn State menyatakan bahwa siswa yang terbiasa bergaul dengan siswa sejenis dalam waktu yang lama, maka ketika dia sudah masuk dunia kerja dan harus bergaul, berkomunikasi dan bekerja sama dengan rekan lawan jenis dalam satu kantor atau sebuah proyek, maka mereka akan mengalami banyak kesulitan.

Akhirnya, menjadi tantangan bagi orang tua ketika ingin mencarikan sekolah untuk anak-anaknya bukan sekedar mengacu pada sekolah homogen atau heterogen atau sekolah yang mahal dan gedung bertingkat, tetapi jenis, model dan visi-misi sekolah juga perlu menjadi pertimbangan dalam memilih sekolah. Salah dalam memilih sekolah untuk anak-anak saat ia masih belia, maka akan mempersulit anak-anak kita saat  mulai masuk dunia kerja.*